السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

“"SALAM CURHAT PENUH KEKELUARGAAN"

Sebelumnya kami panjatkan puji syukur alhamdulilah kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayahnya sehingga terciptanya SAUNG CURHAT KI GENTA untuk kita semua. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa setiap manusia pasti punya masalah masing-masing, baik itu masalah LAHIRIAH maupun masalah BATINIAH.

Semoga dengan adanya SAUNG CURHAT KI GENTA ini, besar atau kecilnya kami bisa membantu segala permasalahan yang anda hadapi, yang tentunya memeras banyak waktu, fikiran ketika anda sedang menghadapi masalah dalam kehidupan, kami juga sangat berharap untuk bisa mempererat tali persaudaraan di antara kita, Amin.”.

 

Alamat

KI GENTA







Perum Pondok Melati Blok B-5 No. 34, Dawuan Timur-Cikampek

HP0899-9204-666 / 0812-9099-3777.



Read more

Kata Pengantar

لَا يُكَلِّفُ اللَّـهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ


Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. 
Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (Al Baqarah 286)



السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

"SALAM CURHAT PENUH KEKELUARGAAN"


Sebelumnya kami panjatkan puji syukur alhamdulilah kehadirat ALLAH SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayatnya sehingga terciptanya  SAUNG CURHAT KI GENTA untuk kita semua. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa setiap manusia pasti punya masalah masing-masing, baik itu masalah LAHIRIAH  maupun masalah  BATINIAH.

Seperti :
- Penyakit Lahir & Batin
- Masalah Rumah Tangga
- Perjodohan
- Penglaris
- Ramal Meramal
- Karier atau Usaha
- Jual/Beli Tanah dll
+ Bedah Aura Ghaib & Pagar Ghaib
Apapun masalah anda, silahkan curhat dan konsultasikan kepada kami.

Kita sebagai mahluk sosial ( Tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain ) di wajibkan untuk IKHTIAR dan saling membantu kepada sesama.

Allah SWT berfirman di dalam Al Quran“…Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.” (Al Maidah: 2)

Ibnu Katsir mengetengahkan dua hadits untuk memperkuat dan menjelaskan ayat ini, yaitu:
Pertama, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang berbunyi, “Seorang mukmin yang bergaul dengan manusia dan bersabar atas perlakuan mereka adalah lebih baik dan besar pahalanya daripada mukmin yang tidak bergaul dengan manusia dan tidak bersabar atas perilaku mereka” (Imam Ahmad).

Kedua, hadits yang menyebutkan tentang perintah menolong siapapun, baik yang terzhalimi maupun yang menzhalimi. Rasulullah saw bersabda, “Tolonglah saudaramu yang menzhalimi dan yang terzhalimi”. Maka para sahabat bertanya, “Menolong yang terzhalimi memang kami lakukan, tapi bagaimana menolong orang yang berbuat zhalim?”. Rasulullah menjawab, “Mencegahnya dari terus menerus melakukan kezhaliman itu berarti engkau telah menolongnya”. (Bukhari dan Ahmad).

Semoga dengan adanya  SAUNG CURHAT KI GENTA ini, besar atau kecilnya kami bisa membantu segala permasalahan yang anda hadapi, yang tentunya memeras banyak waktu, fikiran ketika anda sedang menghadapi masalah dalam kehidupan, kami juga sangat berharap untuk bisa mempererat tali persaudaraan di antara kita.

Dan perlu anda ketahui, kami pun hanya manusia biasa yang pasti mempunyai masalah dan tak pernah luput dari kesalahan serta dosa. Semoga  SAUNG CURHAT KI GENTA ini berguna dalam hal kebaikan untuk anda dan kita semua pada umumnya, Amin.

KELUARGA BESAR SAUNG CURHAT KI GENTA
Read more

Konsultasi

Read more

Buku Tamu


Read more

Kebatinan

Orang Jawa, orang Indonesia, orang Timur senang dengan kebatinan.

Kebatinan adalah laku, usaha dengan melalui rasa, hati yang bening, untuk mengetahui urip sejati, hidup sejati. Laku batin tersebut dilandasi perbuatan dan perilaku yang baik, budi luhur, hati bersih suci, dengan selalu mendekatkan diri dan manembah kepada Gusti, Tuhan.

Beberapa pengalaman akan dialami oleh pelaku kebatinan, ada yang enak, ada yang dirasa berat, semua itu adalah bumbu-bumbu kehidupan dalam menapaki jalan Ilahi.

Pengalaman puncak pelaku kebatinan/ spiritualis adalah kenyataan bahwa dirinya sebagai kawulo berada dalam hubungan serasi dengan Gusti, Tuhan.
Istilah populernya adalah :
Jumbuhing kawulo Gusti         - Hubungan serasi kawulo Gusti
Manunggaling kawulo Gusti    - Manunggalnya kawulo Gusti
Pamore kawulo Gusti             -Bersatunya kawulo Gusti
Yang intinya berarti : Seorang anak manusia telah berada dikehidupan sejati dalam lindungan keagungan Tuhan.


Timbulnya kebatinan

Timbulnya kebatinan sebenarnya adalah hal logis, setelah manusia dalam pengalaman menjalani kehidupan ini, menemukan fakta bahwa hidup dan alam ini , tidak hanya terdiri dari benda-benda dan zat-zat yang lahir saja. Selain yang lahir, yang kasat mata, ada juga hal-hal yang tidak terlihat oleh mata, tetapi sebenarnya ada, eksis.

Selain ada yang konkrit , ada yang abstrak, yang diakui oleh siapapun, seperti : pikiran, gagasan, batin dsb. Jelas, selain lahir ,ada batin.

Sebelum sesuatu termanifestasi, muncul, lahir, sesuatu itu berada dulu didalam angan-angan, pikiran, yaitu batin.

Setiap tindakan yang dilakukan, muncul dialam lahir, tentu sebelumnya di-batin dulu.


Batin itu luas dan dalam

Dengan pengertian dasar seperti diatas, maka yang termasuk lahir adalah apa saja yang kelihatan oleh mata, sedangkan yang tidak kelihatan termasuk ranah batin.

Pandangan yang ditangkap mata juga ada dua.
Pertama : Yang bisa dilihat oleh mata lahir, mata biasa.
Kedua     : Ada orang yang tajam mata batinnya, sehingga mampu melihat yang oleh kebanyakan orang disebut gaib.

Perlu diketahui bahwa setiap orang secara alami,dari “ sononya” juga dilengkapi, memiliki mata batin. Itu anugerah Tuhan, bukan takhayul!

Tetapi kemampuan fungsi mata batin, sejak anak kecil telah dikalahkan oleh logika, yang ditanamkan oleh orang tua dan pergaulan umum.

Tidak hanya mata batin yang ditutup; kepekaan otak , rasa dan indra yang lain , juga ditutup.

Jadi yang terjadi sesungguhnya,kepekaan mata batin, otak batin, rasa batin , itu tidak hilang, hanya sengaja ditutup atau dihalangi atau tidak dikembangkan. Alasannya : Tidak sesuai dengan logika.

Oleh karena perangkat-perangkat batin secara alami dan sah dimiliki setiap manusia, maka hal tersebut tak bisa dihilangkan. Sekali lagi, yang terjadi hanyalah fungsinya tidak dihidupkan.

Seorang manusia yang terbuka mata lahir dan batinnya, tetap berfungsi otak dan rasa batinnya, dia bisa melihat dan memahami yang kelihatan dan “ yang tidak kelihatan”.

Sehingga yang disebut dunia nyata itu relatif. Ini tidak perlu diperdebatkan.

Kesimpulannya sebagai berikut :
Bagi saudara-saudara kita yang fungsi perangkat-perangkat batinnya tidak diaktifkan, dibiarkan tertutup, yang dilihat adalah yang nyata secara konkrit. Itu bagus, wajib bersyukur kepada Tuhan, karena mempunyai mata, otak dan panca indra normal yang berfungsi bagus.

Sementara itu, saudara-saudara kita yang perangkat-perangkatnya berfungsi lahir batin, mampu melihat dan mengetahui bahwa kenyataan itu terdiri dari dua hal, yaitu :
Yang nyata bagi setiap orang ditambah “ yang tidak kelihatan”

Ini sebenarnya hal yang normal saja, katakanlah bahwa orang tersebut memanfaatkan sepenuhnya karunia yang diberikan oleh Tuhan.


Membuka kembali perangkat-perangkat batin.

Karena yang mempunyai kemampuan melihat termasuk hal-hal yang disebut gaib jumlahnya sedikit, orang-orang seperti itu secara salah kaprah dipandang mempunyai kemampuan diatas normal, ada yang menyebut mereka paranormal, bahkan supernormal dlsb.

Untuk membuat keadaan lebih ramai, orang-orang yang disebut paranormal itu senang dengan julukan itu dan memanfaatkan kesempatan ( katanya ini lumrah , masih manusiawi) untuk mendapatkan rejeki dari situ.
Lalu memberikan konsultasi, tidak lagi berdasarkan suka rela sebagai sesama manusia mahluk Tuhan, tetapi ada tarifnya, harus dibayar. Mudah-mudahan, mereka memberikan petunjuk dan pendapat yang benar, tidak akal-akalan. Kalau yang minta tolong orang yang tidak punya dan lagi susah, mudah-mudahan digratiskan, bahkan dibantu uang transportnya untuk pulang naik bis!

Ini semua tentu terpulang kepada watak, nurani dan tingkat kesadaran spiritualnya.

Supaya anda tidak perlu ke “paranormal” kalau lagi bingung atau punya masalah, selain perlu lebih banyak berdoa kepada Tuhan, tenangkan perasaan anda, kendalikan emosi, mulailah berlatih santai membuka kembali fungsi-fungsi perangkat “gaib” yang anda miliki.

Tentu untuk itu anda harus sabar, melatih diri, karena perangkat-perangkat itu sudah lama sekali tidak difungsikan. Kalau terbukanya terlalu cepat atau tiba-tiba, nanti anda kaget dan bisa mengalami goncangan jiwa.

Pelaksanaan dan latihan tersebut hanya melibatkan dan berhubungan dengan diri anda sendiri dan diberkati oleh Tuhan.

Latihan mengolah batin, bisa dilakukan sendiri atas dasar kemantapan hati yang pasrah total kepada Gusti atau dengan petunjuk atau bimbingan seseorang yang lebih senior dalam olah kebatinan, yang biasanya disebut Guru.

Bimbingan Guru Laku tersebut untuk menghindari dari beraneka gangguan dan hal-hal yang negatif, sehingga tidak keliru tujuan sejatinya. Silahkan, anda bebas menentukan pilihan.

Yang penting anda yakin selalu berada dijalan yang hakiki, yang benar, yang menjadi hak anda  dan itu adalah jalan Ilahi.

Menjalani, mempelajari, melatih olah kebatinan atau spiritualitas menurut istilah universal, itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan takhayul, mahluk-mahluk halus yang mendiami tempat-tempat angker, santet dan hal-hal semacam itu.

Kebatinan adalah jalan yang mulia, metode untuk menghayati kebenaran sejati, mengenali diri sejati, hidup sejati, sehingga hubungannya dengan Tuhan, serasi.

Ada yang menyebut keadaan seperti itu : Wis tinarbuko, bahasa Jawa, sudah terbuka batinnya yang tinggi, sudah mendapat Pencerahan – Enlightment – Pepadhang.

Ada yang menyebut Unio Mystica – Persatuan mistis kawulo Gusti . Dalam pemahaman spiritualitas universal dikatakan : Aku ketemu Higher-Self, diri yang lebih tinggi/ Pribadi atau bahkan bisa ketemu dengan Highest –Self – Pribadi Sejati.

Inilah initi kebatinan yang sesungguhnya.


JagadKejawen,

Suryo S. Negoro

Read more

ISLAM DAN KEBATINAN

ISLAM DAN KEBATINAN (Sudy tentang praktik Mistik Jawa Dalam Perspektif Mistik Islam)



A. Pendahuluan
Secara umum mistisme kontemporer disebut kebatinan, ia berasal dari bahasa Arab Bathin, yang berarti dalam, di dalam hati, tersembunti dan penuh rahasia. Cliord Gertz menginterpretasikan batin sebagai “wilayah dalam pengalaman manusia”. 
Kebanyakan kaum pembela agama-agama Timur Tengah di Indonesia mengemukakan penekanan bahwa pesatnya perkembangan sejumlah kelompok mistik mengindikasikan adanya ketidakpuasan terhadap agama-agama mapan. Di mata mereka popularitas mistisme bisa dijelaskan, hingga batas-batas tertentu sebagai sebuah reaksi terhadap dogmatisme dan ritualisme yang mengabaikan kebutuhan akan ekspresi mistik dan pengalaman batin.
Tafsir kedua dalam memandang mistisme adalah, sebagai reaksi atas gempuran gencar dari proses modernisasi dan berikut dedikasinya.

Untuk sebuah mistik jawa, rasanya agak janggal dengan dua tafsir di atas. Sebab pada dasarnya mereka – orang-orang Jawa – beranggapan bahwa Tuhan terletak di dalam hati, dan hidup bagi mereka adalah penyembahan terhadap yang transenden. Selain itu pula, budaya mistik Jawa sangat memberikan ruang bagi pemikiran dan terminology mistik agama “impor” yang juga mengekspresikan penyembahan dengan cara-cara ritual dan ceremonial. 

Maka ketika Islam berikut organisasinya sedang kewilayah mereka, segala sesuatunya-pun berubah, termasuk mistismenya, bahkan mereka mampu menciptakan gaya baru, mistik Jawa singkretik dengan misik Islam.

B. Praktik Dalam Aliran Kebatinan
Kebatinan dalam praktiknya, biasanya dipimpin oleh seorang guru, para guru biasanya dipandang sebagai seorang yang sepuh atau wong tuwo, sehingga menjadikan mereka sebagai igur sentral atas keharmonisan dan kelangsungan komunitas tersebut.
Pada dasrnya aliran kebatinan ini merupakan sekolah atau tempat pembelajaran bagi seseorang yang akan menapaki jalan mistik yang lebih tinggi. Kebatinan –dalam segala variasinya- adalah pengembangan manusia yang menekankan pada sisi bathiniyah, mengembangkan intuitif atau rasa, dan ketentraman hati.

Pada tingkat awal mereka menjalankan laku , yang diekspresikan dengan sujud atau manembah. Muatan dan bentuk aktifitas tersebut biasanya sangant variatif, ada yang meneladani ritual beribadatan Islam, sepeti sujud dihadapan Allah –yang sambil berkonsentrasi pada rasa- atau mengikuti praktik mistik yang kombinasi macam-macam agama. 

Pada tahap sebelumnya perjumpaan dengan kebenaran. Sebuah pemahaman mendalam bahwa satu-saunya jalan untuk mengabdi adalah sebagai hamba uhan, yang bergantung pada skema kosmis Maha Besar, yang oleh aliran kebatinan diekspresikan dengan sujud pengheningan.

Dan pada puncaknya adalah menyatunya hamba Tuhan (union mistik). Pada tahap ini alairan kebatinan menempuh jalan misik yang sungguh berat dan mensyarakan adanya ketekatan atas tujuan, yaitu dengan bercontemplasi penuh untuk mengatasi aspek-aspek lair.

Aliran ini biasanya bercirikan. Pertama, latihan dan olah rasa, dan dibimbing oleh seoreang guru, kedua, komitmen terhadap figure kharismatik guru sangat menonjol, melebihi loyalitas kepada orang tua dan keluarga. Keiga, ikatan emosional terhadap sesame anggota dalam komunitas esoteric tersebut yang sangat tinggi.

C. Mistisme dalam Tasawwuf Islam
Pada zaman Islam, yakni sesudah masa Demak hingga mataram timbullah otonomi dalam diri manusia yang cukup unik, yang akibat dari pengaruh budaya Jawa. Yaitu tentang konsep manunggaling kawulo-gusti.
Dalam Islam upaya untuk mengambil jarak atau meninggalkan nafsu-nasu keduniaan (lawwamah, amarah dan suiyyah) di sebut sebagai Zuhud. Atau sebagai purgative way (penyucian hati) kemudian dilanjutkan dengan zikir. Jika berhasil dengan berkonsentrasi penuh pada zikir, maka bermulalah proses iluminasi atau penghayatan vision, artinya dengan zikir itu, mereka menangkap anugerah sinar gaib dari dalam cermin hatinya. Kesadaran ini muncul bersamaan dengan hilangnya kesadaran terhadap eksistensi dirinya yang terhisap oleh cahaya (nur) ilahi.
Adapun pokok-pokok ajaran tasawwuf, yang penulis ambil dari bukunya Dr. Simuh. Sufisme Jawa, Yaitu :
1. Distansi.
Yaitu pengambilan jarak atas ikatan-ikatan duniawiah, yang merupakan awal dari penemuan kembali kesadaran tentang ke-aku-annya, sehingga mampu untuk memerdekakan dari nafsu-nafsu lawwamah, amarah, dan sufiyah.
2. Konsentrasi.
Yaitu pemusatan pikiran dan hati untuk berzikir kepada Allah, pada tahap ini orang akan lebih menyadari akan makna sholat. Sholat bukan hanya sematmata menggerakkan tubuh, tetapi merupakan upaya yang mulia dan suci, juga sebagai persiapan dasar untuk menghadap Tuhan.
3. Iluminasi atau Kasyaf
Tahap ini merupakan tahap kesadaran yang paling maju dari inti sholat dan pengabdian pada Tuahn, sehingga satu-satunya cara utnuk mencapai kesempurnaan adalah menjadi hamba Allah.
4. Insan Kamil
Yaitu tahap yang paling akhir. Dimana manusia merasakan hadirnya Tuhan pada dirinya sehingga jiwa individu berbaur dengan jiwa universal. Tindalan-tindakannya mengilhami akan keberadaannya sebagai utusan atau “wakil” Tuhan bumi.

D. Kritik Atas Praktik Mistikisme
Dalam perjalanannya syari’at dan tasawwuf tidak pernah sejalan, walaupun keduanya berjalan dengan satu kesatuan yang utuh. Praktik tasawwuf –yang diduga al-Gazali diluar tanggung jawabnya. Menjadi upacara-upacara ritual yang diselingi zikir-zikr dan jauh dari ajaran syari’at murni, sehingga dapat dilihat juga –selain di Jawa- praktik sufisme di India, yang oleh Iqbal di yakini telah melakukan praktek-praktek syirik. 

Kaum sufi menutup indera dan akal mereka untuk melatih intiusi belaka mereka merefleksikan penghayatan agama dengan memutar tasbih, sambil membaca tahlil, maka menurut Iqbal tak ubahnya tubuh dan bebatuan. Karena corak keagamaan kaum sufi yang demikian itu maka dengan lantang Iqbal berkata “dekatkanlah hatimu kepada-Nya dan jauhilah pemakai baju tambalan itu” 

Menurut Iqbal kesalahan besar Gazali adala pemahamannya tentang intuisi terpisah dengan pikiran. Padahal menurut Iqbal intiusi dan pikiran merupakan kesatuan secara organic. Jadi kedua-duanya tidak dapat di pisah-pisahkan.

E. Kesimpulan 
Jika kita saksikan disebuah warung kecil misalnya, atau di pendopo rumah, terkadang kita meanyaksikan beberapa orang yang asik dalam perbincangan mengenai “kehidupan rohani”, entah itu soal keabatinan, kepercayaan, simbolisme slametan, dan lain sebagainya. Singkatnya adalah pertukaran pikiran-pikiran, ide, menguji asumsi, dan mungkin penjelajajahan imajinasi dan interpretasi yang terkait dengan wawasan mistik. Kendati demikian tampak serba pribadi. Untuk itu orang bisa merujuk pada babad, primbon, bahkan al-Qur’an atau apa-pun. Ada nilai-nilai yang akan dibangun, dinegoisikan terus menerus. Dengannya tidak diperkenankan “benar sendiri”, dengannya pula setiap “aliran” diperkenankan mengalir.

Memang terlepas dari justifikasi teologis ada kemiripan dal;am bentuk praktik mistik Jawa dengan sufisme Jawa. Untuk itu emosi keagamaan yang menyebabkan seseorang bersikap religius adalah sangat perlu di “lestarikan” dalam bingkai dialog yang arif. Rudolf Otto malah menghindari analisa tentang emosi keagamaan ini, yang –oleh dia disebut- berupa “takut-terpesona” terhaadap hal-hal yang gaib dan keramat. 

Read more

3 PERMULAAN PENCIPTAAN


Semoga Allah s.w.t memberikanmu kejayaan di dalam amalan-amalanmu yang disukai-Nya dan Semoga engkau memperoleh keridlaan-Nya. Fikirkan, tekankan kepada pemikiranmu dan fahai apa yang aku katakan.

Allah Yang Maha Mulia pada permulaan menciptakan cahaya Muhammad dari cahaya suci Keindahan-Nya. Dalam hadis Qudsi Dia berfirman:
“Aku ciptakan ruh Muhammad dari cahaya Wajah-Ku”.
Ini dinyatakan juga oleh Nabi Muhammad s.a.w dengan sabdanya: “Mula-mula Allah ciptakan ruhku. Pada permulaan diciptakan-Nya sebagai ruh suci”.
“Mula-mula Allah ciptakan qalam”.
“Mula-mula Allah ciptakan akal”.

Apa yang dimaksud sebagai ciptaan permulaan itu ialah ciptaan hakikat kepada Nabi Muhammad s.a.w, Kebenaran tentang Muhammad yang tersembunyi. Dia juga diberi nama yang indah-indah. Dia dinamakan nur, cahaya suci, karena dia disucikan dari kegelapan yang tersembunyi di bawah sifat jalal Allah. Allah Yang Maha Tinggi berfirman:
“Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah, cahaya dan kitab yang menerangkan”. (Al-Maaidah, ayat 15)

Dia dinamakan akal yang meliputi (akal universal) karena dia telah melihat dan mengenali segala-galanya. Dia dinamakan qalam karena dia menyebarkan hikmah dan ilmu dan dia mencurahkan ilmu ke dalam huruf-huruf.

Ruh Muhammad adalah zat atau hakikat kepada segala kejadian, permulaan dan kenyataan alam maya. Baginda s.a.w menyatakan hal ini dengan sabdanya, “Aku adalah bagian dari Allah dan segala sesuatu berasal dariku”. Allah Yang Maha Tinggi menciptakan sekalian ruh-ruh dari roh baginda s.a.w di dalam alam kejadian yang pertama, dalam bentuk yang paling baik. ‘Muhammad’ adalah nama dari sekalian kemanusiaan di dalam alam arwah. Dia adalah sumber, asal usul dan kediaman bagi sesuatu dan segala-galanya.

Empat ribu tahun selepas diciptakan cahaya Muhammad, Allah ciptakan arasy dari cahaya mata Muhammad. Dia ciptakan makhluk yang lain dari arasy. Kemudian Dia hantarkan ruh-ruh turun kepada peringkat penciptaan yang paling rendah, kepada alam kebendaan, alam jirim dan badan.

“Kemudian Kami turunkan ia kepada peringkat yang paling rendah”. (Surah Tin, ayat 15)
Dia hantarkan cahaya itu dari tempat ia diciptakan, dari alam lahut, yaitu alam kenyataan bagi Dzat Allah, bagi keesaan, bagi wujud mutlak, kepada alam nama-nama Ilahi, kenyataan sifat-sifat Ilahi, alam bagi akal asbab kepunyaan roh yang meliputi (ruh universal). 

Di sana Dia pakaikan roh-roh itu dengan pakaian cahaya. Ruh-ruh ini dinamakan ‘ruh pemerintah’. Dengan berpakaian cahaya mereka turun kepada alam malaikat. Di sana mereka dinamakan ‘ruh rohani’. Kemudian Dia arahkan mereka turun kepada alam kebendaan, alam jirim, air dan api, tanah dan angin dan mereka menjadi ‘ruh manusia’. Kemudian dari dunia ini Dia ciptakan tubuh yang berdaging, berdarah.

Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan darinya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain, (Surah Ta Ha, ayat 55)
Setelah tahap ini Allah memerintahkan ruh-ruh supaya memasuki badan-badan dan dengan kehendak-Nya mereka pun masuk.

“Maka apabila Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiup padanya ruh-Ku…”. (Surah Shad, ayat 72)

Sampai saatnya ruh-ruh itu terikat dengan badan, dengan darah dan daging dan lupa kepada asal usul kejadian dan perjanjian mereka. Mereka lupa tatkala Allah ciptakan mereka pada alam arwah Dia telah bertanya kepada mereka:

“Adakah aku Tuhanmu? Mereka telah menjawab:Iya,!.”

Mereka lupa kepada ikrar mereka. Mereka lupa kepada asal usul mereka, lupa juga kepada jalan untuk kembali kepada tempat asal mereka. Tetapi Allah Maha Penyayang, Maha Pengampun, sumber kepada segala keselamatan dan pertolongan bagi sekalian hamba-hamba-Nya. Dia mengasihani mereka lalu Dia hantarkan kitab-kitab suci dan rasul-rasul kepada mereka untuk mengingatkan mereka tentang asal usul mereka.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): “Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah”. Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.(Surah Ibrahim, ayat 5)

Ayat tersebut mengingatkan ruh-ruh tentang hari-hari di mana mereka tidak terpisah dengan Allah’.

Para rasul-rasul telah datang ke dunia ini, melaksanakan tugas mereka dan kemudian meninggalkan dunia ini. Tujuan semua itu adalah membawa petunjuk kepada manusia, peringatan serta menyadarkan manusia dari kelalaian mereka. Tetapi mereka yang mengingati-Nya, yang kembali kepada-Nya, manusia yang ingin kembali kepada asal usul mereka, menjadi semakin berkurangan dan terus berkurangan ditelan zaman.

Nabi-nabi terus diutus dan utusan suci itu sampai kepada Muhammad yang mulia, yang terakhir di kalangan nabi-nabi, yang menyelamatkan manusia dari kehancuran dan kelalaian. Allah Yang Maha Tinggi mengutusnya untuk membuka mata manusia yaitu membuka mata hati yang lalai. Tujuannya ialah membangunkan manusia dari kelalaian dan ketidaksadaran dan untuk menyatukan mereka dengan keindahan yang abadi, dengan penyebab, dengan Zat Allah. Allah berfirman:

“Katakan: Inilah jalanku yang aku dan orang-orang yang mengikuti daku kepada Allah dengan pandangan yang jelas (bashirah)”. (Surah Yusuf, ayat 108).

Ia menyatakan jalan Nabi Muhammad s.a.w. Baginda s.a.w dalam menunjukkan tujuan kita telah bersabda, “Sahabat-sahabatku adalah umpama bintang di langit. Siapapun dari mereka yang kamu ikuti, maka akan kamu temui jalan yang benar”.

Pandangan yang jelas (bashirah) datangnya dari mata kepada roh. Mata ini terbuka di dalam jantung hati orang-orang yang dekat dengan Allah, yang menjadi sahabat Allah. Semua ilmu di dalam dunia ini tidak akan mendatangkan pandangan batin (bashirah). Seseorang itu memerlukan pengetahuan yang datangnya dari alam ghaib yang tersembunyi pengetahuan yang mengalir dari kesadaran Ilahiah.

“Dan Kami telah ajarkan kepadanya satu ilmu dari sisi Kami (ilmu ladunni)”. (Surah Kahfi, ayat 65).

Apa yang perlu seseorang lakukan ialah mencari orang yang mempunyai pandangan batin (bashirah) yang mata hatinya jeli, dan cermat. Orang yang seperti ini sangat diperlukan. Guru yang demikian, yang dapat memupuk pengetahuan orang lain, haruslah seorang yang dekat dengan Allah dan berupaya menyaksikan alam yang hakikki.

Wahai anak-anak Adam, saudara-saudara dan saudari-saudari! Bangunlah dan bertaubatlah karena melalui taubat kamu akan memohon kepada Tuhan agar dikurniakan-Nya kepadamu hikmah-Nya. Berusaha dan berjuanglah. Allah memerintahkan:

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Surah Imraan, ayat 133-134).

Masuklah kepada jalan itu dan bergabunglah dengan kafilah kerohanian untuk kembali kepada Tuhanmu. Pada satu hari nanti jalan tersebut tidak dapat dilalui lagi dan pengembara pada jalan tersebut tidak ada lagi. Kita tidak datang ke bumi ini untuk merusakkan dunia ini. Kita diantar kemari bukan untuk makan, minum dan berak. Ruh pendahulu kita menyaksikan kita. Baginda s.a.w berdukacita melihat keadaanmu. Baginda s.a.w telah mengetahui apa yang akan berlaku kemudian hari apabila baginda s.a.w bersabda, “Dukacitaku adalah untuk umat yang aku kasihi yang akan datang kemudian”.

Apa saja yang datang kepada kamu datang dalam keadaan salah satu bentuk, secara nyata atau tersembunyi; dalam bentuk hikmah kebijaksanaan atau ma’rifat. Allah Yang Maha Tinggi memerintahkan kita supaya mensejahterakan dzahir kita dengan mematuhi peraturan syari’at dan meletakkan batin kita dalam keadaan yang baik dan teratur dengan memperoleh hikmah kebijaksanaan atau ma’rifat. Bila dzahir dan batin kita menjadi satu dan hikmah kebijaksanaan atau ma’rifat dengan peraturan agama (syari’at) bersatu, seseorang itu sampai kepada maqam yang sebenarnya (hakikat).

Kedua-duanya harus menjadi satu. Kebenaran atau hakikat tidak akan diperoleh dengan hanya menggunakan pengetahuan melalui pancaindera dan alam kebendaan. Dengan cara tersebut tidak mungkin mencapai hakikat, sumber, yaitu dzat. Ibadah memerlukan kedua-duanya, yaitu peraturan syari’at dan ma’rifat. Allah berfirman tentang ibadat:

“Dan tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk mengabdikan diri kepada-Ku”. (Surah Dzaariyat, ayat 56).

Dengan kata lain, ‘mereka diciptakan supaya mengenaliKu’. Jika seseorang tidak mengenali-Nya bagaimana dia akan memuji-Nya dengan sebenar-benarnya, meminta pertolongan-Nya dan berkhidmat kepada-Nya?

ma’rifat yang diperlukan untuk mengenali-Nya boleh dicapai dengan menyingkap tabir hitam yang menutupi cermin hati seseorang, menyucikannya sehingga bersih dan menggilapkannya sehingga bercahaya. Kemudian perbendaharaan keindahan yang tersembunyi akan memancar pada rahsia cermin hati.

Allah Yang Maha Mulia telah berfirman melalui rasul-Nya:

“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi. Aku suka dikenali, lalu Aku ciptakan makhluk supaya Aku dikenali”.

Tujuan suci diciptakan manusia ialah supaya mereka mengenali Allah, memperolehi ma’rifat.
Ada dua peringkat ma’rifat yang suci. Seseorang itu perlu mengenali sifat-sifat Allah dan dalil-dalil yang menjadi kenyataan atau pendzahiran bagi sifat-sifat tersebut. Satu lagi ialah mengenali Zat Allah. Di dalam mengenali sifat-sifat Allah manusia secara zahirnya dapat menikmati kedua-duanya yaiyu dunia dan akhirat. ma’rifat yang memimpin kepada Zat Allah tidak diperolehi dengan diri zahir manusia. Ia terjadi di dalam jiwa atau roh suci manusia yang berada di dalam dirinya yang zahir ini.

“Dan Kami telah perkuatkan dia (Isa) dengan roh kudus”. (Surah Baqarah, ayat 87).
Orang yang mengenali dzat Allah menemukan kuasa ini melalui roh kudus (suci) yang dikurniakan kepada mereka.

Kedua ma’rifat tersebut diperoleh dengan hikmah kebijaksanaan yang mempunyai dua aspek; hikmah kebijaksanaan kerohanian yang di dalam dan pengetahuan dzahir tentang benda-benda nyata. Kedua-duanya diperlukan untuk mendapatkaan kebaikan. Nabi s.a.w bersabda, “Pengetahuan ada dua bagian. Satu pada lidah yang menjadi dalil tentang kewujudan Allah, satu lagi di dalam hati manusia. Inilah yang diperlukan bagi melaksanakan harapan kita”.

Pada peringkat permulaan, seseorang itu memerlukan pengetahuan syari’at. Ini memerlukan pendidikan yang mengenalkan dalil-dalil luar tentang Dzat Allah yang nyata di dalam alam sifat-sifat dan nama-nama ini. 

Apabila bidang ini telah sempurna sampailah giliran pendidikan kerohanian tentang rahasia-rahasia, di mana seseorang itu masuk ke dalam bidang ma’rifat yang murni untuk mengetahui yang sebenarnya (hakikat). Pada peringkat yang pertama seseorang itu haruslah meninggalkan segala yang tidak sesuai dengan syari’at, kesalahan di dalam melakukan perbuatan yang baik haruslah dihapuskan. Perbuatan yang baik haruslah dilakukan dengan cara yang betul, sebagaimana keperluan pada jalan sufi. 

Keadaan ini hanya dapat dicapai dengan melatih diri dengan melakukan perkara-perkara yang tidak sesuai dengan ego diri sendiri dan melakukan amalan yang bertentangan dengan kehendak hawa nafsu. Berhati-hatilah di dalam beramal agar amalan itu dilakukan bukan untuk dipertontonkan atau diperdengarkan kepada orang lain. Semuanya haruslah dilakukan semata-mata karena Allah, demi mencari keredaan-Nya. Allah berfirman:

“Barangsiapa berharap menemui Tuhannya, hendaklah dia mengerjakan amal salih dan janganlah dia mempersekutukan sesuatu dengan Allah dalam ibadatnya kepada Tuhannya”. (Surah Kahfi, ayat 110).

Apa yang diuraikan sebagai daerah ma’rifat itu adalah tahap penghabisan bagi daerah kejadian yang pertama. Ia adalah permulaan dan merupakan rumah dan setiap orang kembali ke sana. Di sanalah roh suci dijadikan. Apa yang dimaksud dengan roh suci adalah roh insan. Ia dijadikan dalam bentuk yang paling baik.

Kebenaran atau hakikat tersebut telah ditanam di dalam hati sebagai amanah Allah, diamanahkan kepada manusia agar disimpan dengan baik. Ia bangkit dan nyata melalui taubat yang sungguh-sungguh dan usaha sebenar mempelajari agama. Keindahannya akan memancar ke permukaan apabila seseorang itu mengingat Allah terus menerus, mengulangi kalimah “La ilaha illah Llah”. Pada mulanya kalimah ini diucapkan dengan lidah. Bila hati sudah hidup ia diucapkan di dalam, dengan hati.

Sufi menggambarkan keadaan kerohanian yang demikian dengan menganggapnya sebagai bayi, yaiyu bayi yang lahir di dalam hati, dibela dan dibesarkan di sana. Hati memainkan peranan seperti ibu, melahirkannya, menyusun, memberi makan dan memeliharanya. Jika anak-anak diajarkan ilmu keduniaan untuk kebaikannya, bayi hati pula diajarkan ma’rifat rohani. 

Sebagaimana anak-anak bersih dari dosa, bayi hati adalah sejati, bebas dari kelalaian, ego dan ragu-ragu. Kesucian bayi biasanya nyata dalam bentuk zahir yang cantik. Dalam mimpi, kesucian dan kesejatian bayi hati muncul dalam rupa malaikat. Manusia berharap mendapat ganjaran syurga sebagai balasan kepada perbuatan baik tetapi hadiah-hadiah yang datang dari syurga didatangkan ke mari melalui tangan-tangan bayi hati.
“Dalam kebun-kebun kenikmatan…melayani mereka anak-anak muda yang tidak berubah keadaan mereka”. (Surah Waqi’ah, ayat 12 – 17 ).

“Melayani mereka adalah anak-anak muda laksana mutiara yang tersimpan”. (Surah Tur, ayat 24).
Mereka adalah anak-anak kepada hati, menurut yang diilhamkan kepada sufi, dipanggil anak-anak karena keelokan dan kesejatian mereka. Keindahan dan kesejatian mereka nyata dalam kewujudan dzahir, dalam darah daging, dalam bentuk manusia. Oleh karena keelokan dan kelembutan sifatnya ia dinamakan anak-anak hati, tetapi dia adalah manusia sejati yang mampu mengubah bentuk kejadian atau ciptaan karena dia berhubung erat dengan Pencipta sendiri. Dia adalah wakil sebenar kemanusiaan. Di dalam kesedarannya tidak ada sesuatu malah dia tidak melihat dirinya sebagai sesuatu. Tiada hijab, tiada halangan di antara kewujudannya dengan Zat Allah.

Nabi Muhammad s.a.w menggambarkan suasana demikian sebagaimana sabda baginda s.a.w, “Ada masa aku dengan Allah di mana tiada malaikat yang hampir dan tidak juga nabi yang diutus”. Maksud ‘nabi’ di sini ialah kewujudan lahiriah yang sementara bagi Rasulullah s.a.w sendiri. 

Malaikat yang paling dekat dengan Allah ialah cahaya suci Muhammad s.a.w, kejadian pertama. Dalam suasana kerohanian itu baginda s.a.w sangat dekat dengan Allah sehingga wujud zahirnya dan rohnya tidak berkesempatan menghijabnya dengan Allah. Baginda s.a.w menggambarkan lagi suasana demikian, “Ada syurga Allah yang tidak ada mahligai dan taman-taman atau sungai madu dan susu, syurga yang di dalamnya seseorang hanya menyaksikan Wajah Allah Yang Maha Suci”. Allah s.w.t berfirman:

“Beberapa muka pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya dia memandang”. (Surah Qiamat, ayat 22 & 23).

Pada suasana atau maqam tersebut jika seseorang makhluk termasuk malaikat mendekatinya kewujudan badannya akan terbakar menjadi abu. Allah s.w.t berfirman melalui rasul-Nya:
“Jika Aku bukakan penutup sifat keperkasaan-Ku dengan bukaan yang sangat sedikit sahaja, semua akan terbakar sejauh yang dilihat oleh pandangan-Ku”.

Jibril yang menemani Nabi Muhamamd s.a.w pada malam mikraj, apabila sampai di Sidratul Muntaha, telah mengatakan jika dia melangkah satu langkah sahaja lagi dia akan terbakar menjadi abu. ( Sumber: http://www.sugengprabowo.com/3-permulaan-penciptaan )
Read more